Howard R Turner dalam bukunya Sains Islam yang Mengagumkan menggambarkan besarnya peradaban umat Islam masa lalu. “Dari Semenanjung Iberia, Sisilia, dan daerah-daerah muslim Asia Tenggara. Daerah-daerah yang dikuasai Islam saat ini hampir samatdengan yang diwarisi kaum Muslim pada puncak imperium yang pertama, antara abad ke-9 dan ke-11,” tulisnya.
Atas fakta sejarah itu, umat Muslim selayaknya bertanya tentang keadaan sekarang yang justru terbalik. Islam pernah memimpin peradaban dunia dengan prestasi yang gemilang selama berabad-abad. Lantas, langkah apa yang mesti ditempuh umat Islam untuk dapat kembali meraih kembali kegemilangan yang telah hilang itu?
Prof Dr Komaruddin Hidayat, rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta, mengatakan, ada beberapa hal yang harus dilakukan umat Islam. Pertama, umat Islam harus mampu memelihara yang baik dari budayanya. Kedua, mampu berinovasi. Dan, ketiga, mau mengapresiasi peradaban lain yang bagus. Singkatnya, umat Islam perlu membangun sikap terbuka.
Jika menengok ke masa lampau, keterbukaan merupakan kunci kemajuan peradaban Islam. Kuntowijoyo dalam Paradigma Islam: Interpretasi untuk Aksi mengatakan, Islam adalah sebuah paradigma yang terbuka. Ia merupakan mata rantai peradaban dunia. Dalam sejarah, kita melihat Islam mewarisi peradaban Yunani Romawi di Barat dan peradaban-peradaban Persia, India, dan Cina di Timur.
Dari abad ke-7 sampai ke-16 Masehi, ketika peradaban-peradaban besar di Barat dan Timur mengalami kemerosotan, Islam mengambil alih peran itu dan menjadi pewaris utamanya. Dalam kurun waktu delapan abad itu, Islam mampu mengembangkan warisan-warisan ilmu pengetuhuan dan teknologi dan peradaban-perndapan tersebut.
Banyak contoh yang dapat dijadikan bukti tentang peranan Islam sebagai mata peradaban dunia. Misalnya, Islam mengembangkan matematika India, ilmu kedokteran Cina, sistem Pemerintnhan Sassanid (Persia), logika Yunani, dan sebagainya.
Akan tetapi, tidak semua yang berasal dari peradaban-peradaban itu diambil mentah-mentah. Ada proses penyaringan dan pengembangan. Dalam bidang-bidang tertentu, Islam menolak logika Yunani yang mengagungkan rasionalitas. Islam menekankan cara berpikir yanglebih menekankan rasa, seperti yang berkembang dalam tasawuf.
Pada tingkat yang lebih praktis, Komaruddin Hidayat memberikan contoh yang cukup baik. Ia mengungkapkan, menara masjid merupakan hasil adopsi dari Majusi. “Menara artinya tempat api yang dipuja orang-orang Majusi di Persia,” ujar cendekiawan Muslim Indonesia ini kepada Republika.
Oleh umat Islam, menara kemudian dijadikan simbol untuk mengumandangkan azan yang akhirnya menjadi bagian dari budaya Islam, padahal bukan dari Islam.
Menurut mantan ketua panwaslu pusat ini, dalam memajukan sebuah budaya, umat Islam asa lalu melakukun inovasi. Produk-produk budaya dari luar yang dianggap baik diterima melalui proses Islamisasi.
Dengan proses ini, umat Islam tidak sekadar mewarisi peradaban, tetapi juga memperkaya. Oleh karena itu, Islam akhirnya mampu menjadi peradaban yang agung. Bahkan, mewariskan khazanah ilmu pengetahuan kepada peradaban Barat sekarang ini melalui Renaisans (pencerahan).
Ajarkan Keterbukaan
Ada tokoh Muslim yang cukup menarik untuk dijadikan contoh keterbukaan sikap terhadap warisan budaya lain. Ia adalah Syihabuddin Suhrawardi. “Dia menjelajahi sudut-sudut negeri Persia dan mengungkapkan hikmah Persia. Dia menyusuri pelosok-pelosok Anatolia dan Syria. Dia mendatangi kota-kota besar di wilayah Islam dan berbincang dengan para filsuf pecinta hikmah Yunani,” tulis Jalaluddin Rakhmat dalam Islam Aktual.
Sikap semacam itu selazimnya menjadi teladan bagi umat Islam di jaman sekarang. Alquran pun menuntun umat Islam ke arah perenungan sejarah dan mempelajari hukum jatuh bangunnya bangsa-bangsa sebelumnya untuk mengambil hikmah.
Dalam Surah Alhajj ayat 46, Allah berfirman, “Maka, apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar.”
Islam adalah agama yang mengajarkan keterbukaan, terutama dalam mengambil hikmah. Kepada para murid dan sahabatnya, Ali bin Abi Thalib Ra berkata, “Hikmah itu barang berharga yang hilang dari seorang Mukmin. Karena itu, di mana pun orang Mukmin menemukan hikmah, ia akan memungutnya. Ambillah hikmah itu walaupun dari orang munafik”
Alquran, sunnah Nabi Mumamnad SAW. dan kata-kata bijak para suhabat, jika hanya dipahami secaru harfiah, tentu tidak membawa perubahan apa-apa. Mewujudkan tuntunan kitab suci ke dalam kehidupan nyatalah yang bisa mengubah sejarah, sebagaimana yang dilakukan para tokoh Muslim di era kejayaan Islam.
Atas fakta sejarah itu, umat Muslim selayaknya bertanya tentang keadaan sekarang yang justru terbalik. Islam pernah memimpin peradaban dunia dengan prestasi yang gemilang selama berabad-abad. Lantas, langkah apa yang mesti ditempuh umat Islam untuk dapat kembali meraih kembali kegemilangan yang telah hilang itu?
Prof Dr Komaruddin Hidayat, rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta, mengatakan, ada beberapa hal yang harus dilakukan umat Islam. Pertama, umat Islam harus mampu memelihara yang baik dari budayanya. Kedua, mampu berinovasi. Dan, ketiga, mau mengapresiasi peradaban lain yang bagus. Singkatnya, umat Islam perlu membangun sikap terbuka.
Jika menengok ke masa lampau, keterbukaan merupakan kunci kemajuan peradaban Islam. Kuntowijoyo dalam Paradigma Islam: Interpretasi untuk Aksi mengatakan, Islam adalah sebuah paradigma yang terbuka. Ia merupakan mata rantai peradaban dunia. Dalam sejarah, kita melihat Islam mewarisi peradaban Yunani Romawi di Barat dan peradaban-peradaban Persia, India, dan Cina di Timur.
Dari abad ke-7 sampai ke-16 Masehi, ketika peradaban-peradaban besar di Barat dan Timur mengalami kemerosotan, Islam mengambil alih peran itu dan menjadi pewaris utamanya. Dalam kurun waktu delapan abad itu, Islam mampu mengembangkan warisan-warisan ilmu pengetuhuan dan teknologi dan peradaban-perndapan tersebut.
Banyak contoh yang dapat dijadikan bukti tentang peranan Islam sebagai mata peradaban dunia. Misalnya, Islam mengembangkan matematika India, ilmu kedokteran Cina, sistem Pemerintnhan Sassanid (Persia), logika Yunani, dan sebagainya.
Akan tetapi, tidak semua yang berasal dari peradaban-peradaban itu diambil mentah-mentah. Ada proses penyaringan dan pengembangan. Dalam bidang-bidang tertentu, Islam menolak logika Yunani yang mengagungkan rasionalitas. Islam menekankan cara berpikir yanglebih menekankan rasa, seperti yang berkembang dalam tasawuf.
Pada tingkat yang lebih praktis, Komaruddin Hidayat memberikan contoh yang cukup baik. Ia mengungkapkan, menara masjid merupakan hasil adopsi dari Majusi. “Menara artinya tempat api yang dipuja orang-orang Majusi di Persia,” ujar cendekiawan Muslim Indonesia ini kepada Republika.
Oleh umat Islam, menara kemudian dijadikan simbol untuk mengumandangkan azan yang akhirnya menjadi bagian dari budaya Islam, padahal bukan dari Islam.
Menurut mantan ketua panwaslu pusat ini, dalam memajukan sebuah budaya, umat Islam asa lalu melakukun inovasi. Produk-produk budaya dari luar yang dianggap baik diterima melalui proses Islamisasi.
Dengan proses ini, umat Islam tidak sekadar mewarisi peradaban, tetapi juga memperkaya. Oleh karena itu, Islam akhirnya mampu menjadi peradaban yang agung. Bahkan, mewariskan khazanah ilmu pengetahuan kepada peradaban Barat sekarang ini melalui Renaisans (pencerahan).
Ajarkan Keterbukaan
Ada tokoh Muslim yang cukup menarik untuk dijadikan contoh keterbukaan sikap terhadap warisan budaya lain. Ia adalah Syihabuddin Suhrawardi. “Dia menjelajahi sudut-sudut negeri Persia dan mengungkapkan hikmah Persia. Dia menyusuri pelosok-pelosok Anatolia dan Syria. Dia mendatangi kota-kota besar di wilayah Islam dan berbincang dengan para filsuf pecinta hikmah Yunani,” tulis Jalaluddin Rakhmat dalam Islam Aktual.
Sikap semacam itu selazimnya menjadi teladan bagi umat Islam di jaman sekarang. Alquran pun menuntun umat Islam ke arah perenungan sejarah dan mempelajari hukum jatuh bangunnya bangsa-bangsa sebelumnya untuk mengambil hikmah.
Dalam Surah Alhajj ayat 46, Allah berfirman, “Maka, apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar.”
Islam adalah agama yang mengajarkan keterbukaan, terutama dalam mengambil hikmah. Kepada para murid dan sahabatnya, Ali bin Abi Thalib Ra berkata, “Hikmah itu barang berharga yang hilang dari seorang Mukmin. Karena itu, di mana pun orang Mukmin menemukan hikmah, ia akan memungutnya. Ambillah hikmah itu walaupun dari orang munafik”
Alquran, sunnah Nabi Mumamnad SAW. dan kata-kata bijak para suhabat, jika hanya dipahami secaru harfiah, tentu tidak membawa perubahan apa-apa. Mewujudkan tuntunan kitab suci ke dalam kehidupan nyatalah yang bisa mengubah sejarah, sebagaimana yang dilakukan para tokoh Muslim di era kejayaan Islam.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Tafadhal,,,uktub yang shalih