Masjid al-Aqsha menjadi tempat suci ketiga umat Islam setelah Masjidil Haram di Makkah dan Masjid Nabawi di Madinah. Sebelum melaksanakan Mi’raj (naik ke langit),Rasulullah SAW melaksanakan shalat sunnah di Masjid al-Aqsha. Selain itu, Masjid Al-Aqsha juga pernah menjadi kiblat umat Islam sebelum akhirnya datang perintah Allah kepada Rasulullah SAW untuk menghadap kiblat ke Baitullah (Ka’bah) di Makkah (QS Albaqarah ayat 142-145).
Tentu menjadi sebuah pertanyaan besar, baik di kalangan umat Islam maupun umat lainnya, mengapa Rasulullah SAW justru melaksanakan Mi’raj dari Masjid al-Aqsha? Mengapa tidak langsung dari Masjidil Haram? Mengapa saat melaksanakan shalat itu dulunya Rasulullah SAW menghadap ke Baitul Maqdis (Al-Aqsha)? Dan, tentunya, masih banyak pertanyaan lainnya.
Oleh karena itu, teramat penting bagi umat Islam untuk mengetahui hal tersebut. Dalam beberapa keterangan disebutkan, ketika Allah memerintahkan perintah shalat dan menghadap ke Masjid al-Aqsha, hal itu dimaksudkan agar Rasulullah SAW menghadap ke tempat yang suci, bebas dari berbagai macam berhala dan sesembahan. Ketika itu, area sekitar Masjid al-Haram dipenuhi berhala-berhala yang jumlahnya mencapai 309 buah dan senantiasa disembah oleh orang Arab sebelum kedatangan Islam. Sehingga, di bawah dominasi kekufuran seperti itu, Rasulallah SAW belum bisa menunaikan ibadah shalat di tempat tersebut.
Selain itu, bila Rasulullah SAW saat itu melaksanakan shalat dengan menghadap ke Masjid al-Haram, hal itu akan menjadi kebanggaan bagi kaum kafir quraisy bahwa Rasulullah SAW seolah mengakui berhala-berhala mereka sebagai tuhan. Inilah salah satu hikmah diperintahkannya shalat dengan menghadap ke Baitul Maqdis (al-Aqsha).
Dalam surah Albaqarah ayat 142, Allah SWT menjelaskan mengapa perpindahan kiblat itu dilakukan. Sewaktu Nabi Muhammad SAW hijrah ke Madinah, sekitar 16-17 bulan setelah hijrah itu, Allah SWT memerintahkan Rasulullah SAW untuk menghadapkan wajahnya ke Masjidil Haram (Ka’bah). Perpindahan ini dimaksudkan bahwa ibadah shalat itu bukan semata-mata menghadap ke Masjidil Haram atau al-Aqsha sebagai tujuan, melainkan menghadapkan din kepada Allah. Dan, adapun Ka’bah, adalah sebagai pemersatu umat Islam dalam menentukan arah kiblat.
Sama seperti al-Aqsha yang belum berupa bangunan masjid (ketika itu), al-Shakhra juga masih berupa gundukan tanah yang dipenuhi dengan debu. Adapun hikmah dibalik penyebutan Allah SWT terhadap al-Haram dan al-Aqsha sebagai masjid (sebagaimana termaktub dalam surah al-Isra ayat 1), adalah untuk menunjukkan kepada umat Islam bahwa semua itu merupakan mukjizat yang akan datang dan terwujud seiring dengan berjalannya waktu sebagaimana sekarang ini, keduanya telah menjadi masjid.
Dibangun Nabi Ya’kub
Selain keberadaan Masjid al-Aqsha, Kota Palestina (Yerusalem) begitu istimewa lantaran di
Syahdan, kali pertama Yerusalem dibangun Nabi Daud AS setelah menguasai
Tahta kerajaan Nabi Daud lalu diduduki Nabi
Haekal atau Baitallah itu menjadi tempat beribadah umat Yahudi pertama yang indah dan megah. Di tengah Haekal itulah terdapat sebuah batu hitam bernama Sakhrah Muqaddasah. Berlandaskan batu itulah, Rasulullah SAW melanjutkan Mi’raj menghadap Sang Pencipta untuk menerima perintah shalat.
Namun demikian, menurut Hanafi al-Mahlawi, dalam bukunya Al-Amakin al-Masyhuriyah fi Hayati Muhammad SAW (Tempat-tempat Bersejarah yang Dikunjungi Rasulullah SAW), jauh sebelum Nabi Sulaiman AS membangun Haikal tersebut, Nabi Ya’kub AS (nenek moyang Sulaiman AS) telah membangun sebuah masjid di Palestina, yaitu Masjid al-Aqsha. Masjid al-Aqsha pertama kali dibangun oleh Nabi Ya’kub AS dan direnovasi oleh Nabi Daud AS, kemudian disempurnakan oleh Nabi
Dalam Sahih Bukhari dan Sahih Muslim disebutkan, Abu Dzar meriwayatkan bahwa ia bertanya kepada Rasulullah SAW tentang masjid pertama yang dibangun di muka bumi, Rasulullah SAW menjawab: “Masjid al-Haram.” Abu Dzar bertanya lagi, “Selanjutnya masjid apa?” Beliau menjawab, “Masjid al-Aqsha.” Abu Dzar bertanya lagi, “Berapa lama jarak pembangunan keduanya?” Rasulullah SAW berkata, “40 tahun. lalu, Allah menjadikan bumi ini bagi kalian sebagai masjid. Oleh karena itu, kapan pun waktu shalat, lakukanlah shalat di atasnya, karena dia memiliki keutamaan.”
Dalam beberapa keterangan, Masjid al-Aqsha pertama kali dibangun pada 2500 tahun sebelum masehi (SM).
Suku Bangsa Palestina
Suku bangsa yang mendiami Palestina adalah bangsa Kanaan, umat Nabi Nuh sekitar tahun 3000 SM. Seiring dengan makin banyaknya suku bangsa yang datang dan bertempat tinggal di Palestina, sejumlah kerajaan yang berkuasa di sekitar Mesir, Siria Mesopotamia, dan Asia Minor berupaya memperebutkannya. Yang pertama merebut Palestina adalah Mesir yakni sekitar tahun 3000 SM.
Pada 1400 SM, Mesir mulai melemah, sehingga memunculkan penguasa-penguasa baru di Palestina. Pada 1230 SM, Joshua menguasai sebagian wilayah Palestina. Sekitar 100 tahun kemudian,
Palestina membangun sebuah
Sejarah panjang telah mewarnai berdirinya Palestina. Berbagai negara dengan sejumlah pemerintahan dan kepemimpinan silih berganti melakukan upaya merebut
Berbeda dengan kebanyakan negara di dunia yang mengumumkan kemerdekaannya setelah memperoleh konsesipolitik dari negara penjajah, Palestina mengumumkan eksistensinya untuk mengikat empat juta kelompok etnis dalam satu wadah, yaitu negara Palestina dengan ibu
Al-Shakhra: Batu Tambatan Buraq
Salah satu poin penting yang terjadi dalam peristiwa Isra dan Mi.”raj Rasulullah SAW adalah tempat berpijaknya kaki Rasulullah saat akan naik ke langit dan menaiki buraq(kendaraan yang membawa Rasulullah SAW dan malaikat Jibril, sejenis baghal yang lebih kecil dari kuda, namun lebih besar dari keledai), yakni sebuah batu (al-Shakhra).
Batu itu terletak di sekitar Mesjid al-Sbakhra (kubah batu) yang juga dijuluki dengan nama The Dome of the Rock. Masjid ini dibangun atas perintah khalifah Umar bin Khattab RA pada 15 H/636 M, ketika tentara Islam berhasil menaklukkan Palestina (Yerusalem) dari tangan
Banyak pihak yang.mengaitkan batu tempat berpijak kaki Rasulullah SAW dan tambatan buraq tersebut dengan cerita-cerita mistik, yaiti batu terapung. Konon disebutkan, batu itu dulunya juga ingin ikut naik bersama Rasulullah SAW, namun beliau melarangnya. Karena sudah.sempat naik (mengambang), Rasulullah memerintahkannya untuk berhenti sehingga menijadi terapung. Cerita ini diungkapkan oleh banyak pihak untuk merusak keimanan umat Islam. Bahkan, di internet banyak beredar foto-foto batu yakni seolah-olah terapung (mengambang). Padahal, foto mengambang itu merupakan hasil rekayasa. Karna, sesungguhnya pada batu itu terdapat penyangga di bawahnya.
Tempat Bersejarah di Masjid Al-Aqsha
1. Menara Bab al-AshbathBangunan ini terletak di sebelah utara al-Aqsha antara gerbang Hittah dan gerbang al-Ashbath. Bangunan ini didirikan pada zaman Sultan al-Mulk al-Asyraf Sya’ban (764-778 H/1363-1376 M) yang dipimpin oleh Gubernur Saifuddin Qatlubigo tahun 769 H/1367 M. Hal ini diketahui dari prasasti yang ada di
2. Qubbah al-Silsilah
Terletak beberapa meter di sebelah timur Qubbah Shakhra (Kubah Batu). Qubbah al-Silsilah dibangun oleh khalifah Bani Umayyah, Abdul Malik bin Marwan (65-68 H/507-685 M). Sedangkan, Qubbah Shakhra dibangun antara tahun 66-72 H, jugaoleh Khalifah Abdul Malik bin Marwan.
Kubah ini berdiri di atas bangunan segi enam yang ditopang oleh enam tiang. Dikelilingi oleh serambi yang terdiri atas 11 segi dan berada di atas 11 tiang yang kokoh sebagaimana mihrab yang berada di atasnya.
Dinamakan Qubbah al-Silsilah yang berarti Kubah Rangkaian, karena adanya rangkaian cahaya yang tergantung di dalamnya serta bisa dilihat dan luar. Rangkaian cahaya ini tergantung antara langit dan bumi.
Bangunan ini pernah direnovasi sebanyak dua kali, yaitu pada masa kerajaan Mamlukiyah dan kekhalifahan Utsmaniyah, yaitu masa Sultan al-Malik al-Dzahir Bebres (658-676 H) dan Sultan Sulaiman al-Qanuni (926-974 H).
3. Menara Gerbang Silsilah
Terletak di sebelah barat al-Haram al-Syarif (al-Aqsha), antara gerbang Silsilah dan Sekolah al-Asyrafiyah. Bangunan ini didirikan pada zaman Sultan al-Nashir Muhammad bin Qalawan, tepatnya tahun ketiga dari kesultanannya (741-809 H/1309-1340 M) berdasarkan perintah dari Sultan al-Malik al-Nashir pada 730 H/1329 M, sebagaimana tertulis pada prasastinya.
4. Menara al-Maghoribah
Bangunan ini terletak di bagian barat daya dari al-Haram al-Syarif al-Qudsiyyah. Menara ini terkenal dengan kemegahannya yang dibangun oleh Hakim Syarifuddin Abdurrahman bin al-Shahib, salah seorang menteri dari Sultan Fakhruddin al-Kholili. Bangunan tersebut dirikan pada masa keemasannya Syarifuddin sebagai penjaga al-Haramain al-Syarifain (di Al-Quds dan
5. Qubbah Mi’raj
Terletak di sebelah barat Qubbah al-Shakhra agak miring ke sebelah utara. Bangunan ini didirikan pada masa kesultanan al-Ayubiyah, tepatnya pada masa Sultan al-Amlik al-Adil Saifuddin Abi Bakar (596-615 H/1200-1218 M) atas perintah Amir al-Zanjili, wali kota al-Quds, sebagaimana tertulis pada prasasti di sebelah pintu masuk utama.
6. Qubbah Nahwiyyah
Qubbah ini terletak di pojok barat daya Qubbah al-Shakhra, dan dibangun pada zaman al-Ayubiyah tepatnya pada Sultan Malik isa tahun 604 H/1207 M. Dulu bangunan ini merupakan tempat belajar bahasa Arab, karena Sultan Malik Isa terkenal dengan kecintaannya pada bahasa Arab. Demikian tertulis pada prasasti yang terdapat dalam qubbah tersebut.
Qubbah ini terdiri atas dua ruangan dan satu aula yang memanjang yang bisa dimasuki dari pintu utama. Ruangan ini dihiasi dengan ukiran-ukiran pepohonan. Demikian juga tiang-tiangnya yang kokoh yang dihiasi dengan berbagai ukiran yang menunjukkan bangunan ini didirikan pada dua zaman, yaitu Sahlibiyah dan Ayubiyah.
7. Mimbar Masjid
Bangunan ini dibuat atas perintah Syekh Nuruddin Zanki yang dihadiahkan kepada Shalahuddin al-Ayyubi, atas keberhasilannya membebaskan Palestina dari cengkeraman Pasukan Salib.

setelah peringatan terakhir alloh mengubah arah kiblat ke makah, ini alasannya Disini
BalasHapus